Skip navigation

There’s a story told by Ajahn Brahm that really changed the way I think. I read this story about a month ago, and it really got into me. I kinda owe Ajahn Brahm an apology because I always put off reading his book, cause to be frank I hate to be told what I should believe in. What I had in mind was “ah, this is just another religion book. I know what to do and what not to do. I don’t need to be told.”  Those kind of stuff. In my opinion, faith is supposed to free you instead of being a burden to you. But hey, what do I know, I mean, the ideas of Dracula seems more real to me than this omnipotent and omniscient force called god.

Then, one day my sister read a story from Ajahn Brahm’s book called, “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.” It’s a book consisting of 108 short stories that had been translated into Indonesian. It goes like this:

Nanti, Saya Akan Bahagia

Barangkali batu paling berharga di dalam “toples” pada cerita terdahulu, adalah kebahagiaan kita. Saat kita tidak memiliki kebahagiaan di dalam diri kita, kita tidak memiliki kebahagiaan untuk diberikan kepada orang lain. Jadi mengapa begitu banyak orang tidak memberika prioritas kepada kebahagiaanm terus menundanya hingga saat-saat akhir? (Atau bahkan setelah saat-saat akhir, seperti yang ditunjukkan oleh kisah berikut ini).

Ketika saya masiih berumur empat belas tahun, saya belajar untuk menghadapi ujian O-level di sebuah sekolah tinggi di London. Orang tua dan guru-guru saya menasihati saya agar berhenti bermain sepak bola pada sore hari dan akhir pekan, mengerjakan PR saja di rumah. Mereka menerangkan betapa pentingnya ujuan O-level tersebut dan jika saya lulus, nanti, saya akan bahagia.

Saya mengikuti nasihat mereka dan lulus dengan baik sekali. Tetapi itu tidak membuat saya terlalu bahagia, karena keberhasilan saya berarti bahwa saya harus belajar lebih keras lagi, selama dua tahun berikutnya, untuk mempersiapkan ujian A-level. Orang tua dan guru-guru saya menasihati saya agar berhenti keluyuran pada sore hari dan akhir pekan, kalau dahulu diminta berhenti mengejar-ngejar bola, sekarang diminta berhenti mengejar-ngejar cewek. Di rumah saja, belajar. Mereka berkata bahwa ujian A-level begitu penting dan kalau saya lulus, nanti saya akan bahagia.

Sekali lagi, saya mengikuti nasihat mereka dan berhasil baik. Sekali lagi, itu tidak membuat saya terlalu bahagia. Sebab sekarang saya harus belajar jauh lebih keras dari sebelumnya, selama tiga tahun lagi, untuk gelar di universitas. Ibu dan para guru (saat itu ayah saya sudah meninggal) menasihati saya agar menjauhi bar dan pesta kampus, melainkan belajar saja dengan tekun. Mereka berkata betapa pentingnya gelar sarjana dan jika saya berhasil, nanti, saya akan bahagia.

Sampai di titik ini, saya mulai curiga.

Saya melihat beberapa teman yang lebih senior, yang telah belajar dengan tekun dan meraih gelar sarjana. Sekarang mereka bahkan bekerja lebih keras lagi untuk pekerjaan pertama mereka. Mereka bekerja begitu keras untuk menabung sejumlah uang untuk membeli sesuatu yang lebih penting, katakanlah, sebuah mobil. Mereka berkata, “Saat tabungan saya cukup untuk membeli sebuah mobil, nanti, saya akan bahagia.”

Ketika mereka sudah punya cukup dana dan telah membeli mobil pertamanya, mereka masih saja tidak bahagia. Sekarang mereka bekerja keras untuk membeli sesuatu yang lain, dan setelah itu mereka akan bahagia. Atau mereka berjuang gigih dalam gelora percintaan, mencari teman hidup. Mereka berkata kepada saya, “Saat saya menikan dan sudah mapan, nanti, saya akan bahagia.”

Begitu menikah, mereka masih saja tidak bahagia. Mereka harus bekerja lebih keras lagi, bahkan mencari kerja sampingan, untuk menabung cukup banyak untuk uang muka sebuah apartemen, atau bahkan sebuah rumah kecil. Mereka berkata, “Saat kami sudah punya rumah sendiri, nanti, kami akan bahagia.”

Sayangnya, membayar cicilan bulanan untuk rumah kredit berarti mereka masih tidak bahagia. Lebih-lebih, mereka memulai membangun sebuah keluarga. Mereka akan punya anak-anak yang akan membuat mereka terjaga malam-malam, menyedot uang simpanan mereka, dan melipatgandakan kekhawatiran mereka. Sekarang mungkin perlu dua puluh tahun lagi untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Lalu mereka akan berkata, “Ketika anak-anak sudah besar, keluar dari rumah dan mandiri, nanti, kami akan bahagia.”

Saat anak-anak sudah keluar dari rumah, kebanyakan orang tua sudah menghadapi masa-masa pensiun. Lalu mereka terus menunda kebahagiaan mereka, bekerja keras untuk tabungan hari tua. Mereka berkata, “Ketika saya sudah pensiun, nanti, saya akan bahagia.”

Bahkan sebelum mereka pensiun, dan tentunya juga setelahnya, mereka mulai menjadi religius dan pergi ke gereja. Pernahkah Anda perhatikan berapa banyak orang tua memenuhi bangku-bangku gereja? Saya bertanya kepada mereka, mengapa mereka sekarang pergi ke gereja. Mereka berkata, “Karena, saat saya mati, nanti, saya akan bahagia!”

Bagi mereka yang percaya bahwa, “Saat saya mendapatkan ini, nanti, saya akan bahagia,” kebahagiaan mereka hanyalah menjadi impian masa depan. Seperti halnya kaki pelangi yang terlihat satu atau dua langkah di depan, namun selamanya tidak akan bisa digapai. Di dalam hidup, atau bahkan setelah hidup, mereka tidak akan pernah mewujudkan kebahagiaan.

This story has made me think that I haven’t really lived my life. Society makes us believe that ‘to live your life’ means ‘to do what the other people do’, stuff like have a good education, get a well-paid job, marry a nice boy/girl, have kids and many more. Often, when we don’t follow that path, we are told that we are not living our life ‘properly’.

What if that’s not the life that we want to lead, aren’t we living someone else’s life? Have we really lived?

I’m  still pondering. I wonder what’s your take on this.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: